16 Januari 2010

PERANCANGAN PERUSAHAAN DAN PABRIK KELAPA SAWIT

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan bangsa Indonesia yang memberikan peran yang sangat signifikan dalam pembangunan perekonomian bangsa Indonesia, khususnya pada pengembangan agroindustri. Indonesia diharapkan akan menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun demikian, ternyata prediksi tersebut berjalan lebih cepat, Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, mengungguli Malaysia.
Jika melihat kebutuhan akan minyak kelapa sawit di dunia maka sudah barang tentu setiap tahunnya akan meningkat sejalan pula dengan peningkatan jumlah penduduk dunia. Terlebih saat ini minyak sawit juga banyak digunakan sebagai biodiesel, bahan bakar alternatif yang kini sedang marak di pasaran karena sifatnya yang ramah lingkungan.
Prospek pengembangan kelapa sawit sangatlah baik. Dari sisi permintaan, diperkirakan permintaan terhadap produk kelapa sawit akan tetap tinggi di masa-masa mendatang karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan komoditas subtitusinya.
Dari kondisi yang demikian, maka peluang bisnis untuk mengembangkan proyek pengembangan pabrik kelapa sawit sangatlah menjanjikan. Terlebih di Indonesia, kondisi iklim yang tropis dan curah hujan yang cukup memungkinkan tanaman kelapa sawit tumbuh dengan baik di wilayah Indonesia.
Makalah ini menguraikan tentang proyek pengembangan pabrik kelapa sawit (PKS) dalam rangka memanfaatkan peluang dan potensi sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia dengan mengolah kelapa sawit menjadi produk turunan kelapa sawit.

B. Tujuan
Tujuan dari analisis pengembangan pabrik kelapa sawit ini adalah memanfaatkan peluang yang dimiliki oleh Indonesia serta mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam rangka pengambangan pabrik kelapa sawit (PKS).

BAB II PEMBAHASAN
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penghasil minyak baik minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Negara Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebaran kelapa sawiit antara lain adalah di daerah Aceh, Pantai Timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Sumatera adalah pulau yang memiliki areal kelapa sawit terluas di Indonesia yaitu mencapai 75,98%, diikuti Kalimantan dan Sulawesi masing-masing 20,53 % dan 2,81 %. Secara umum penyebaran kelapa sawit terdapat di Riau, Kalimantan Barat, Kaimantan Tengah, Kaimantan timur, Papua, Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi tengah, dan Sulawesi Selatan.
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) termasuk ke dalam famili Palmae dan subkelas Monocotyledoneae. Kelapa sawit memiliki akar berjenis akar serabut. Kedua adalah batang yang berbentuk silinder dengan diameter sekitar 20–75 cm. Tinggi batang bertambah sekitar 45 cm per tahun. Ketiga adalah daun dan produksi pelepah daun selama satu tahun mencapai 20–30 pelepah. Kemudian terdapat bunga pada tanaman kelapa sawit. Salah satu bagian terpenting dari kelapa sawit adalah buah dari kelapa sawit yang terkumpul di dalam tandan. Dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah. Tanaman normal akan menghasilkan 20–22 tandan per tahun. Sedangkan jumlah tandan buah pada tanaman tua sekitar 12–14 tandan per tahun.
Bila dilihat secara anatomi buah kelapa sawit tersusun dari pericarp atau daging buah. Pericarp ini terdiri dari mesokarp, yaitu kulit luar buah yang keras dan licin. Mesokarp merupakan bagian daging buah yang berserabut yang banyak mengandung minyak dengan rendemen tertinggi. Kemudian ada biji yang tersusun dari endokarp (tempurung) yang merupakan lapisan keras dan berwarna hitam. Selain itu ada endosperm (kernel) yang berwarna putih dimana kernel akan menghasilkan minyak inti atau palm kernel oil.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari tanaman kelapa sawit adalah daging buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harganya yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten yang tinggi. Olahan lain dari minyak sawit juga dapat diolah menjadi bahan baku margarin.
Sedangkan pada bagian minyak inti dapat diolah menjadi bahan baku alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan yang bercabang banyak dan memiliki ukuran yang kecil dan apabila masak, buahnya akan berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat mengandung banyak minyak. Minyak yang dihasilkan tersebut digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin serta ampasnya yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Ampas yang biasa disebut bungkil itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam dan tempurungnya dapat digunakan sebagai bahan bakar atau arang.
Minyak sawit ini memiliki banyak kegunaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi karena keunggulan sifat yang dimiliki oleh kelapa sawit ini sendiri yaitu tahan terhadap oksidasi dengan tekanan yang tinggi. Selain itu mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya dan mempunyai daya melapis yang tinggi serta tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Keberadaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu sumber minyak nabati relatif cepat diterima oleh pasar domestik dan pasar dunia. Peningkatan konsumsi minyak nabati dalam negeri terlihat dari tahun 1987 hingga tahun 1995, permintaan lokal akan minyak nabati naik dengan laju rata-rata 5.6% per tahunnya. Peningkatan ini sebagian disebabkan karena peningkatan jumlah penduduk. Dalam rangka mengantisipasi melimpahnya produksi CPO, maka diperlukan usaha untuk mengolah CPO menjadi produk hilir. Pengolahan CPO menjadi produk hilir memberikan nilai tambah tinggi. Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan non pangan. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin. Produk non pangan terutama oleokimia yaitu ester, asam lemak, surfaktan, gliserin dan turunan-turunannya.
Produk olahan CPO yang merupakan non pangan diantaranya adalah oleokimia. Industri penghasil oleokimia termasuk industri kimia agro (agrobased chemical industry) yaitu industri yang mengolah bahan baku yang dapat diperbaharui (renewable), merupakan industri yang bersifat resources-based industries dan mempunyai peranan penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat luas (basic needs) seperti kosmetika, produk farmasi dan produk konsumsi lainnya. Salah satu produk turunan oleokimia adalah ester, contohnya adalah metil ester. Asam lemak metil ester mempunyai peranan utama dalam industri oleokimia. Metil ester digunakan sebagai senyawa intermediate untuk sejumlah oleokimia yaitu seperti fatty alcohol, alkanolamida, α-sulfonat, metil ester, gliserol monostearat, surfaktan gliserin dan asam lemak lainnya.
Pengembangan produk turunan minyak sawit penting untuk dilakukan mengingat peningkatan nilai tambah yang dapat diperoleh. Produk hilir sawit lanjutan yang dapat dihasilkan melalui penerapan proses lanjutan terhadap produk-produk oleokimia yang telah berkembang di Indonesia akan memberikan tambahan nilai tambah yang cukup besar. Nilai tambah produk hilir sawit tersebut akan lebih besar dibandingkan nilai tambah produk-produk oleokimia.
Peluang pengembangan produk turunan (hilir) minyak sawit mengingat lembaga-lembaga riset di Indonesia telah melakukan riset-riset mengenai produk hilir sawit. Riset-riset produk hilir sawit yang telah dikembangkan hingga skala produksi pilot plant oleh lembaga riset di Indonesia sangat baik untuk diaplikasikan ke skala industri. Produk oleokimia sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai salah satu jawaban kurang prospektusnya harga CPO dan PKO karena berlawanan dengan kondisi supply-demand minyak mentah nabati yang saat ini dan di masa yang akan datang berada dalam posisi excess supply, kesetimbangan produk oleokimia dunia justru diperkirakan masih akan berada dalam kondisi excess demand hingga beberapa tahun mendatang. Kondisi excess demand pada produk oleokimia ini tentu merupakan sebuah indikasi akan prospektifnya harga komoditi tersebut.
Ekspor industri oleokimia telah dilakukan ke berbagai negara. Pasar ekspor yang selama ini prospektif untuk komoditi asam lemak adalah Singapura, Eropa (Jerman Prancis, Inggris, Belanda, Denmark dan Belgia), Jepang dan Amerika Serikat. Negara- negara konsumen utama deterjen adalah Amerika Serikat (29,1 kg/kapita/tahun), Eropa (15,5 kg/kapita/tahun), Singapura (7,8 kg/kapita/tahun) dan Jepang (7,2 kg/kapita/tahun). Sedangkan konsumen utama sabun berturut-turut adalah Singapura (4,5 kg/kapita/tahun), Amerika Serikat (2,8 kg/kapita/tahun) dan Eropa (2,3 kg/kapita/tahun). Sejalan dengan peningkatan jumlah dan pendapatan penduduk, kebutuhan akan kedua produk tersebut (deterjen dan sabun) tampaknya akan semakin meningkat(AP31, 1993;Tri Karya Pecindo, 1995). Sedangkan menurut laporan wwf 2002, negara importir kelapa sawit terbesar berasal dari India, China dan Pakistan. Sedangkan 17% bagian dari importir kelapa sawit berasal dari Eropa dimana Belanda, Inggris dan Jerman menjadi pengimpor utamanya. Penggunaan utama minyak kelapa sawit di negara pengimpor ini antara lain adalah untuk pembuatan vanaspati (vegetable ghee), shortening, dan cooking fats. Vanaspati merupakan jenis bahan makanan yang banyak dikonsumsi di India dan Pakistan dan juga terkenal di beberapa negara Mediteran.

Pengolahan Perkebunan Kelapa Sawit
Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan kebehasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil (CPO) dan inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya. Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya, sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.

Perusahaan Kelapa Sawit
Begitu tersebarnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia sehingga banyak didirikan perusahaan-perusahaan kelapa sawit atau yang biasanya disebut sebagai PKS yang merupakan perusahaan yang mengelola atau mengolah kelapa sawit mulai dari perkebunan hingga menjadi CPO. Biasanya tiap PKS sudah memiliki sendiri area perkebunan sawit yang akan dikelolanya atau mereka sudah menjalin kerjasama dengan petani kelapa sawit untuk menyetorkan komoditas tersebut kepada perusahaan yang bersangkutan. Semakin besar luas lahan kelapa sawit yang dimiliki perusahaan, belum tentu pasokan CPO yang dihasilkan berjumlah besar. Semua tergantung pada jumlah kelapa sawit yang dihasilkan tiap lahan perkebunan.
Untuk harga komoditas kelapa sawit sangat ditentukan oleh kebutuhan pasar kebijakan pemerintah. Perusahaan sama sekali tidak dapat mengontrol harga, demikian pula dengan suplai kelapa sawit karena hasilnya sangat bergantung pada kondisi alam yang sulit untuk diprediksi. Dengan kata lain, terdapat beberapa faktor dalam proses produksi dan penentuan harga yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh perusahaan. Saat ini harga kelapa sawit sedang tinggi karena selain dibutuhkan untuk industri pangan dan kimia, CPO juga digunakan untuk bahan bakar penganti minyak bumi, khususnya di negara-negara Eropa. Sedangkan suplai CPO dunia ditentukan oleh Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Tingginya permintaan CPO dunia belum mendapat respon yang seimbang. Industri CPO di Indonesia masih bertumbuh secara horizontal. Artinya, perusahaan masih memperbanyak lahan, memeperluas dan mengakuisisi kebun, bukannya berusaha untuk meningkatkan produksi CPO dengan jumlah komoditas yang tetap.
Naiknya harga minyak mentah nabati berbahan baku kelapa sawit (crude palm oil) di pasar dunia beberapa bulan terakhir ini membuat petani kelapa sawit kini mulai bergairah kembali mengelola lahan perkebunan kelapa sawitnya. Para petani kelapa sawit terlihat mulai menikmati kenaikan harga minyak mentah nabati tersebut. Di sentra-sentra produksi tandan buah segar kelapa sawit, seperti di Damuli, Londut, Padanghalaban, Aekpaminke, Kabupaten Labuhanbatu, harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani, sudah mencapai Rp 1.400 per-kilogram.
Bahkan dibeberapa tempat di Kabupaten Labuhanbatu Selatam, seperti Torgamba, Langgapayung, sudah ada agen pembeli yang berani membeli TBS kelapa sawit petani seharga Rp. 1550 perkilogram. Beberapa petani kelapa sawit menyebutkan, membaiknya harga jual kelapa sawit petani ditingkat agen antara Rp. 150 – Rp. 200 perkilogram, kemungkinan karena CPO di pasar dunia kini terlihat mulai bergairah.
Sementara dari beberapa agen pabrik pengolahan minyak kelapa sawit yang ada menyebutkan pihak pabrik kelapa sawit (PKS), menerapkan harga pembelian bervariasi kepada petani melalui agen. Dari agen pembeli TBS kelapa sawit petani diperoleh informasi, tertinggi antara Rp 1.500 hingga Rp. 1.600 perkilogram. Sementara terendah beberapa PKS hanya sanggup membeli TBS kelapa sawit dari petani seharga Rp 1.375 masing-masing per-kilogram.
Sedangkan untuk harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil diperkirakan akan masih stabil hingga pertengahan tahun depan. Setelah fenomena commodity bubble akhir tahun lalu yang telah melambungkan beberapa harga komoditas seperti crude palm oil (CPO), tetapi kemudian terjadi penurunan harga komoditas secara drastis dan hingga saat ini mulai tercapai stabilitas harga atas komoditas tersebut. Sekarang harga CPO hampir normal kembali, meski volumenya tidak sebesar saat terjadi commodity bubble. Krisis akibat commodity bubble sempat menurunkan harga hingga 50 persen. Harga kelapa sawit yang sempat menembus level 1.340 dollar AS perton pada bulan Februari 2008, tiba-tiba menurun drastis hingga menyentuh level 485 dollar AS perton pada bulan Oktober. Demikian halnya harga karet alam SIR 20 yang sempat mencapai 3260 dollar AS per ton pada Juli 2008, turun hingga 1.300 dollar AS pada Januari 2009. Khusus untuk harga CPO hingga tahun depan masih cenderung tetap. Meski ada upaya pengembangan industri hilir CPO pada beberapa daerah penghasil minyak kelapa sawit di Indonesia.
Selain harga yang ditentukan sepenuhnya oleh pasar serta kebijakan pemerintah, karakteristik lainnya dari industri CPO adalah padat modal. Perusahaan harus mempersiapkan investasi untuk tiga tahun pertama, ketika perkebunan belum berproduksi. Jika produksi terhenti di tahun kedua, misalnya, maka semua modal yang ditanamkan akan hilang.
Di luar faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa faktor yang dapat dikontrol oleh perusahaan, yaitu biaya langsung dan tidak langsung, efisiensi, dan produktivitas. Aliran kas Perusahaan Kelapa Sawit terdiri dari aliran pengeluaran (outflow), yaitu semua biaya per tahun, dalam nilai unag yang dikeluarkan oleh perusahaan selama pelaksanaan kegiatan, dan aliran penerimaan (inflow), yaitu semua penerimaan per tahun, dalam nilai uang yang diterima perusahaan dari pelaksanaan kegiatan perkebunan kelapa sawit.
Total biaya per tahun untuk melaksanakan perkebunan kelapa sawit merupakan penjumlahan dari semua pengeluaran dalam kurun waktu satu tahun tertentu, untuk melaksanakan kegiatan tertentu, sesuai dengan jadwal pelaksanaan kegiatan. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan proyek diantaranya adalah biaya untuk:
1) Mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) lahan perkebunan kelapa sawit.
2) Investasi tanaman kelapa sawit.
3) Pemeliharaan tanaman.
4) Pemanenan TBS (Tandan Buah Sawit).
5) Pemupukan.
6) Pengangkutan TBS ke pabrik pengolahan.
7) Invstasi pembangunan pabrik.
8) Biaya pengolahan TBS menjadi CPO dan KPO.
9) Biaya pengangkutan CPO dan KPO dari lokasi PKS ke pelabuhan ekspor.
10) Biaya overhead dan biaya depresiasi.
Penerimaan dalam nilai uang diperoleh dari hasil penjualan CPO dan KPO yang dijiual di pasar domestik maupun yang diekspor.
Untuk meningkatkan Perusahaan Kelapa Sawit, akan lebih baik jika perusahaan memanfaatkan IT untuk mengintegrasikan proses bisnis mereka dari hulu ke hilir. Dengan ini, perusahaan dapat mengintegrasikan dan mengontrol setiap proses bisnis yang berlangsung, mulai dari perkebunan, pabrik, pengolahan kantor cabang, dan kantor pusat. Perusahaan juga dapat menghitung setiap aktivitas yang dilakukan, membandingkan kondisi sebelum dan keadaan sesudah sebuah aktvitas dilaksanakan.
Dari sisi logistik, untuk menekan biaya, perusahaan dapat melakukan sentralisasi pembelian bibit, pupuk, pestisida, dan sebagainya, serta mengatur keluar masuk barang sesuai dengan wilayah yang membutuhkannya. Perusahaan juga mampu menghitung setiap biaya dan anggaran yang dibutuhkan dalam setiap aktivitas, mengontrol transaksi dari beberapa perkebunan dan perusahaan, mempersingkat financial close-cycle, serta pajak.
Untuk melaksanakan semua itu, perusahaan harus mempersiapkan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk menunjang aplikasi yang digunakan. Perangkat yang paling kritikal, yaitu SDM yang mengetahui dan mengerti tentang IT dan jaringan komunikasi data bagi lokasi perkebunan dan kantor cabang yang biasanya terletak jauh dari kota dan belum terjangkau jaringan komunikasi terrestrial. Memang hal ini akan membutuhkan biaya yang besar pada saat pertama kali melaksanakannya. Selain itu, pelaksanaan sistem ini tidak dapat langsung berjalan lancar karena baru diterapkan. Pasti akan ada kesalahan, kelalaian dalam penggunannya. Tetapi lama-kelamaan perusahaan dan SDM nya akan terbiasa dengan sistem baru itu dan hal ini akan sangat bermanfaat bagi perusahaan. Sedangkan untuk pembangunan pabrik minyak sawit sangat prospektif dan cukup menguntungkan, untuk itu pemerintah daerah mengundang para investor untuk terlibat dalam proyek ini dengan ketentuan pembangunan pabrik TBS dengan kapasitas 30 ton TBS perjam memerlukan investasi dana sekitar Rp.120 milyar. Masa pembangunan pabrik dilaksanakan selama 2 tahun.
Biaya Investasi Pabrik pada awalnya Rp. 120 Milyar dengan bunga bank 18 % selama 4 tahun : 0,18 x 4 th x 120 Milyar Rupiah = Rp. 86,4 Milyar . Kemudian investasi + bunga bank : 120 Milyar + 86,4 Milyar = 206,4 Milyar, Angsuran per bulan : 206,4 Milyar : 48 bulan = Rp 4, 3 Milyar/bulan. Jika pabrik bekerja sehari selama 15 jam maka = 15 jam x 30 ton TBS/ jam : 450 Ton TBS/hari atau 13.500 ton TBS/bln.
Apabila dikalkukasi,jumlah TBS yang diolah menjadi CPO=0,23x450TonTBS/hari =103.5 ton CPO/hari. Jika dalam 1 bulan pabrik bekerja selama 30 hari maka =103,5 ton CPO perhari x 30 hari = 3.105 tonCPO perbulan. Nilai CPO = 3.105 ton CPO x Rp. 5.800.000= Rp.18.009.000.000.- (18,009 M). Untuk biaya operasional pabrik(40 %) = 0,4 x Rp.18.009 Milyar = Rp.7,203 Milyar /bulan. Sehingga keuntungan bersih yang didapat= (Nilai CPO – Biaya Operasional – Angsuran Bulanan) = Rp.18.009.000.000 - Rp.7.203.600.000.- Rp. 4.300,000.000.= Rp.6.505.400.000.-/bln dan investasi akan kembali dalam jangka 19 bulan sejak pabrik beroperasi pada kapasitas maksimal asumsi harga CPO Rp. 5.800 ,- /Kg. Rendemen TBS 23 % .
BAB III KESIMPULAN
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang menjanjikan. Negara Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebaran kelapa sawiit hampir di seluruh wilayah Indonesia antara lain adalah di daerah Aceh, Pantai Timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Sumatera adalah pulau yang memiliki areal kelapa sawit terluas di Indonesia yaitu mencapai 75,98%.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari tanaman kelapa sawit adalah daging buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Minyak nabati dari sawit memiliki kelebihan dibanding minyak yang lain. Minyak sawit ini memiliki banyak kegunaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi.
Pengolahan CPO menjadi produk hilir memberikan nilai tambah tinggi. Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan non pangan. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin. Produk non pangan terutama oleokimia yaitu ester, asam lemak, surfaktan, gliserin dan turunan-turunannya. Sedangkan negara pengimpor hasil olahan kelapa sawit yaitu Singapura, Eropa (Jerman Prancis, Inggris, Belanda, Denmark dan Belgia), Jepang, Amerika Serikat, India, China dan Pakistan.
Untuk perancangan pabrik dibutuhkan banyak pertimbangan biaya dan kondisi tempat karena pembuatan pabrik ini membutuhkan strategi dan selain itu juga suatu perusahaan atau pabrik kelapa sawit ini dalam pengolahannya diperlukan teknologi informatika sebagai sarana pendukung.





DAFTAR PUSTAKA

[Departemen Perindustrian]. 2004. “Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit”. http://www.depperin.go.id// [13 Desember 2009]
Noer Sutrisno, 2008. Partisipatif berkelanjutan Peranan industri sawit dalam pengembangan Peranan industri sawit dalam pengembangan Ekonomi regional: menuju pertumbuhan Ekonomi regional: menuju pertumbuhan Partisipatif berkelanjutan. Seminar Nasional Dampak Kehadiran Perkebunan kelapa Sawit terhadap Kesejahteraan Masyarakat, Universitas Sumatra Utara.
Pardamean, Maruli. 2007. Paduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka : Jakarta.
Sastrosayono, Selardi. 2009. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia pustaka : Jakarta.

3 komentar:

  1. halo halo,,lumayan bagus nih...
    saya pengen punya usaha untuk produk turunan olahan kelapa sawit...


    salam kenalll

    BalasHapus
  2. hehe.. makasih ..
    iya klo bisa dikembangkan kan bisa menguntungkan juga yaa ... :)

    BalasHapus
  3. hmm...itu biaya 40%, boleh saya tahu rinciannya apa saja sampe dapat cuma 40%. Harusnya biaya bunga dari Bank masuk ke dalam struktur biaya. Lalu Bank tidak pernah memberikan kredit 100% dari nilai project. Untuk project beginian minimal 30-35% dana milik perusahaan, sisanya baru kredit bank dengan jaminan mesin pabrik. Untuk kebun terpisah lagi.

    klo saya contoh kecil yang nyata saja, kapasitas 5TPH, dengan asumsi TPS tanpa menghitung kebun.

    Investasi Mesin dan Bangunan 5,566 Milyar
    Biaya terdiri dari: Modal Kerja Setahun 35,640 Milyar, Depresiasi Bangunan & Mesin serta Perawatan 403 Juta, Amortisasi 10 Tahun Buang 14% per annum 1,335 Milyar
    Pemasukkan CPO rendeman 25% 36 Milyar, Klatak rendeman 12% 3,24 Milyar
    Net Profit Before Interest & Tax 1,86 Milyar per annum, ROI 33,43%.

    Lalu dengan Peraturan Menteri Pertanian RI No: 26/ Permentan /OT.140/2/ 2007, tidak ada lagi PKS tanpa kebun. PKS harus memiliki kebun setidaknya 20% dari kebutuhan PKS. Klo seperti yang mba tulis PKS 30TPH berarti harus memiliki kebun sendiri setidaknya 1200 Ha dan itu masuk ke komponen investasi dan biaya.

    Sorry ya mba, klo saya kasih koreksi. Masalahnya klo saya lihat hitung2an mba kurang emipiris/nyata.

    BalasHapus